




.....Amin.....

Daud merupakan salah satu dari sekian banyak tokoh Alkitab yang sangat terkenal, dari anak Sekolah Minggu hingga orang dewasa tahu siapa itu Daud. Dia adalah raja kedua Israel sesudah Saul. Dia pernah mengalahkan Goliat. Daud adalah tokoh yang paling panjang kisahnya dalam Alkitab (hampir 2 kitab: I Sam 16-II Sam 24 dan beberapa pasal di awal kitab I Raj dan sebagian kitab Mazmur adalah hasil karyanya). Kisah hidupnya dibeberkan dan diperlihatkan kepada kita. Dan Tuhan sepertinya ingin berkata kepada kita, "Inilah orang yang berkenan kepada-Ku. Dialah orang yang melaksanakan perintah-Ku dengan tulus dan rendah hati."
Daud memang adalah orang yang berkenan di hadapan Tuhan namun itu tidak berarti hidupnya selalu rata dan tidak ada rintangan. Bahkan kesulitan hidupnya yang paling besar muncul setelah dia diurapi sebagai raja, tepatnya saat Tuhan mengucapkan kata-kata di samping. Dia harus menjadi buronan raja selama bertahun-tahun. Dia harus hidup dengan menggembara dan tak menentu hidupnya. Sesudah menjadi raja pun dia harus mengalami beberapa pemberontakan. Namun dia tidak menjadi putus asa dan meninggalkan Tuhan, malah sebaliknya dia melihat semua kejadian itu adalah supaya dia makin dekat kepada Tuhan, supaya dia makin bergantung dan bersandar kepada-Nya. Terkadang Tuhan mengizinkan kesulitan menghampiri hidup kita, rasanya tidak ada jalan keluar dari masalah itu, namun itu sebenarnya Tuhan izinkan agar kita tidak bersandar pada kemampuan kita saja tetapi lebih bersandar kepada-Nya. Di balik kehebatan Daud ada seorang yang menopangnya yaitu Tuhan. Jika dia mengalami suatu masalah dia selalu berdoa meminta pertolongan kepada Tuhan. Itu terlihat dari curahan hatinya yang tertuang dalam kitab Mazmur yang sebagian besar ditulis olehnya.
Saat Daud diurapi, semua orang mungkin tidak akan menyangka dia yang dipilih oleh Tuhan untuk menjadi raja. Dari segi umur dan tubuh, saudara-saudara Daud lebih besar dari Daud. Namun Tuhan berkata: "Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati"
(I Sam 16 : 7b).
Tuhan juga tidak melihat keadaan tubuh kita melainkan hati kita. Tuhan sayang semua orang, baik yang kaya maupun yang miskin, baik yang muda maupun tua, baik yang cacat fisik maupun yang sehat. Tuhan melihat hati kita. Tuhan hanya melihat ketulusan hati kita. Daud mungkin saat itu masih seperti anak-anak yang belum bisa berperang dan memimpin rakyat namun Tuhan melihat hatinya begitu ingin melayani-Nya dan menurut Tuhan itulah modal utama dalam melayani Tuhan. Demikian juga kita, mungkin tampak luar kita tidak hebat tetapi jika kita memiliki hati untuk melayani Tuhan dan kita mau bersandar pada-Nya selalu niscaya Tuhan akan membentuk kita seperti Dia membentuk Daud sedemikian rupa sehingga dia dapat menjadi raja yang sangat berhasil di mata Tuhan maupun di mata rakyat.
Sejak Daud diurapi, kehidupan Daud tidak sama seperti dulu lagi. Dia bahkan tidak menjalani kehidupan yang penuh dengan ketenangan dan kedamaian. Dia harus menjadi bahan amarah Saul. Namun dia menyadari bahwa semuanya ini Tuhan izinkan dalam hidupnya untuk suatu tujuan. Allah membentuknya agar Daud dapat menjadi raja yang mengasihi-Nya dan tentunya mengasihi rakyatnya. Setidaknya ada 3 aspek yang Tuhan ingin bentuk dari diri Daud dan juga dalam diri kita.

Di saat menghadapi perjuangan iman, Bunda Maria juga tak lepas dari penghiburan-penghiburan Tuhan. Saat mengunjungi Elisabeth, Maria dipuji dengan kidung Magnificat Maria. Saat melahirkan di kandang sumpek, banyak menerima tamu tak dikenal seperti para gembala bahkan tiga raja
cuma itu, iringan nyanyian para malaikat pasti meneguhkan iman Bunda Maria. Mujizat pertama di Kana adalah tanda heran yang diterima karena Yesus mengabulkan permintaan ibunya.
Saya percaya masing-masing kita mengalami betapa sulitnya perjuangan iman dalam mengikut Yesus, sama seperti masuk jalan kecil yang berdesak-desakan, tapi pasti ada juga penghiburan-penghiburan yang Tuhan berikan bagi kita. Bisa lewat ucapan positif dari orang-orang disekitar kita,
bisa lewat SabdaNya, bahkan kehadiranNya dalam Ekaristi. Semoga penghiburan ini bisa menjadi peneguhan iman kita untuk tetap setia padaNya, sampai kita bertemu muka dengan muka dengan Sang Sabda.
Saat kita takut, khawatir, tak berdaya, Bunda Maria pun masih setia mendampingi kita dan mengharapkan kita juga setia agar bisa berjumpa dengannya.




